Tabi Appa’s diary – Choi Seunghyun or Choi Siwon?

By DoubleChoi

With Choi Seunghyun and Kim Jihyun (also Choi Juno)

 

 

Hallo semuanya, TOP yang tampan ada disini…

(Juno : Juga Choi Juno sang bayi kharismatik)

Oke… sudah berapa lama aku tidak muncul di sini? Jujur saja, awalnya aku tidak berniat untuk melanjutkan menulis ceritaku, malas sekali. Lagipula tidak banyak orang yang membacanya, kan? Namun, karena aku sudah memutuskan untuk tidak mempunyai akun sosial media manapun, maka Jihyun menyuruhku untuk terus menulis. Dia bilang, itu sebagai upaya agar aku tidak terlalu terlihat ketinggalan jaman. Demi dia, maka aku akan melanjutkannya.

Ah tentu saja, akan selalu ada baby Juno yang mengacaukan semuanya. Bnhswruokmvfsb..,,ku t6r6xwsh,jljbu drsrcv,hu yfd dhkkobyf  zxm kph

(Juno : Sekarang aku sudah pandai menulis loh)

Baiklah, mari kita mulai.

******

Istirahat.

Akhir-akhir ini jadwalku adalah istirahat setelah sibuk dengan syuting film dan alive tour. Semua ini hanya berlaku untukku saja, Jiyong sedang sibuk dengan persiapan album dan konser dunianya, Youngbae dan Daesung juga sama dan Seungri…. Well, tidak ada yang special, dia hanya sedang melakukan berbagai cara untuk membuat wajahnya semakin tampan tanpa operasi plastik.

(Juno: Seperti slogan iklan ya…. Tampan tanpa operasi plastik)

Setelah jalan-jalan ke Italia selama dua minggu bersama Jihyun dan eomma, sisa waktu istirahat ini kuhabiskan saja di rumah. Menebus semua kesibukanku bersama BigBang sepanjang tahun 2012, menghabiskan waktuku bersama Jihyun dan Juno yang semakin hari semakin besar, cerewet dan aktif.

(Juno: Sebentar lagi aku akan tumbuh besar seperti appa)

Terkadang jika sedang malas jalan-jalan, kami bertiga menghabiskan waktu seharian di rumah, bercanda sepanjang hari atau bahkan tidak melakukan apapun, hanya tidur, makan dan tidur.

(Juno : Membuatku sangat bosan…)

Chagiyaa… masih lama?”

“Jangan bergerak, tabi… nanti rusak…”

Siang ini aku sedang terlentang di karpet ruang tengah, pasrah pada Jihyun yang sejak tadi sibuk memakaikan masker di wajahku, masker yang baru dibelinya di salon milik Hanbyul noona. Sejak sepuluh menit yang lalu dia melarangku bicara atau bergerak, mengancam bahwa wajahku akan keriput jika melakukannya. Dan baby Juno-ku yang sangat pintar juga sedang melakukan hal serupa, mengoleskan masker itu di kaki dan tanganku, menghabiskan masker yang harganya tidak murah itu. Mereka berdua sedang sibuk menjahili TOP BigBang.

“Appaa… pppaaaaa”

(Juno : Kan supaya kaki dan tangan appa juga terlihat mulus dan tampan)

“Jihyun ah…. Aku haus…”

“Isshh, kau cerewet sekali… sabar sebentar lagi.. kalau sampai maskernya rusak wajahmu akan terlihat tua… “

“Kau berlebihan”

“Jangan protes! Aku melakukannya karena akhir-akhir ini kau semakin terlihat seperti ahjussi, Sepuluh tahun lebih tua daripada aku. Iya kan, baby Jun?”

“Jussiiii….”

Bagian mana dari perkataan Jihyun yang lucu? Tidak ada, kan? Lalu kenapa eomma dan bayi itu malah tertawa. Ahjussi? Yang benar saja.. Baiklah, aku tidak mau berdebat dengan Jihyun, sangat tidak dewasa. Ini sudah hampir lima belas menit dan masker itu belum juga kering. Dan semakin lama aku merasa mengantuk, jadi lebih baik tidur saja. Kurasakan baby Juno meninggalkan kakiku yang pasti sudah penuh dengan masker itu, dia pergi entah kemana.

(Juno : Sudah yaaa, main dengan appa itu membosankan)

“Kim Jihyuuunnn…”

“hmmmhhh…”

Dalam kesadaranku yang semakin menghilang karena rasa kantuk, samar ku dengar Jihyun dan Juno sedang tertawa kecil, entah sedang melakukan apa, yang jelas terdengar sedikit agak jauh. Apakah mereka meninggalkanku sendirian? Ah tidak!! Akhirnya aku membuka mata dan mencari keberadaan mereka.

“YAAA!! APA YANG SEDANG KAU LIHAT?!!”

Eommaaa!!!”

OMO Tabi!! Kau membuatku kaget!! Kau benar-benar terlihat seperti alien dengan masker itu..”

JIhyun mendelik karena kaget melihat wajahku dan mengusap dada baby Jun yang sepertinya juga kaget, menyembunyikan wajahnya di dada Jihyun.

(Juno : Appa menyeramkan!!! Untung saja aku tidak kena serangan jantung)

Jihyun tidak kemana-mana, sedang duduk di sampingku dengan Juno di pangkuannya dan juga tab di tangannya. Mereka berdua sedang sibuk menonton sesuatu hingga melupakanku. Tanpa membersihkan masker awet muda yang menutupi wajah, kuambil tab itu untuk memeriksa apa yang sedang mereka lihat. Jangan sampai Jihyun mengajari Juno untuk menonton film yadong seperti yang selalu dilakukan  Seungri.

(Juno : Yadong, apa sih?)

“Appaaaa…. Sip… sip”

Juno berdiri dan pindah ke pangkuanku, menunjuk nunjuk tab itu, ingin sekali menontonnya lagi. Aku menghela napas lega karena ternyata mereka sedang menonton Shaun the sheep, pantas saja Juno mengatakan sip sip. Tapi tunggu dulu, ada kolom lain di tab itu dan saat aku meng-klik-nya, membuatku menatap Jihyun yang tersenyum tidak berdosa, kami bertatapan. Juno mengambil alih tab itu dan kembali mengatakan sip sip, ingin menonton lagi.

(Juno : Aduh tadi sampai dimana nontonnya? Appa mengganggu saja deh)

“Jangan bilang kalau kau akan datang ke acara itu….”

Jihyun tersenyum penuh arti dan mengangguk, lalu menunjukkan sesuatu di ponselnya, sebuah pesan tidak penting dari Yunho hyung.

“Aku sudah mendapatkan tiketnya dan akan pergi weekend ini, SENDIRIAN SAJA!!”

“Siapa yang memberi ijin?”

“Ayolah Tabi… ijinkan aku datang sekali saja…”

Sekali? Dia bilang sekali? Apa dia lupa kalau sebelum menikah dia sering sekali melakukannya. Kami bukan sedang membicarakan konser dunia Jiyong, atau perayaan premier Film Lee Byung Hun, aktor favoritnya. Kami sedang membicarakan sebuah acara Fanmeeting. Jihyun membuatku bertahan dengan masker awet muda itu sedangkan dia sedang asyik membaca detail Fanmeeting CHOI SIWON. Astaga!!

Jihyun mencoba memberikan senyuman termanisnya padaku, mengeluarkan jurus maut yang biasanya akan membuatku mengangguk, tapi aku diam saja, menatapnya galak.

(Juno : Ahahaha appa tertipu)

“Tidak setiap hari dia mengadakan fanmeeting, dan aku bisa datang… Yunho oppa sudah bersusah payah mencarikan tiketnya untukku, aku harus menghargainya”

“Sudah berapa kali kau datang ke acara fanmeeting Siwon sejak sebelum kita menikah? Apa dia berubah menjadi lebih tampan? Lesung pipinya hilang satu? Sama saja, kan? Malah semakin tua.. dan apa itu bersusah payah…. Bukan hal sulit untuk Yunho hyung mendapatkan tiket itu karena mereka satu agency dan bersahabat baik. Jangan mengada-ada. Lebih baik kau datang ke acara fanmeeting TOP BigBang bulan depan, itu jelas lebih bagus”

SHIREO!! Untuk apa aku datang ke acara fanmeeting-mu. Setiap hari aku bertemu denganmu, melihatmu, kau juga tidak berubah, tidak jadi lebih tampan, malah semakin tua dan terlihat seperti ahjussi dan aku bukan fans-mu!!”

Jihyun melotot padaku dengan gaya marahnya yang khas. Kurebut tab dari Juno yang justru berusaha untuk mengambilnya kembali. Dia merengek.

“Sip… appaaa sip… sip…”

(Juno : Ya Tuhan!! Kenapa appa senang sekali mengganggu ketentraman hidupku T_T)

Aku segera membuka sebuah situs berita terbaru dan membukanya, menunjukkannya dengan sangat jelas pada Jihyun. Polling Best Idol, penilaian idol terbaik yang penilaiannya dilakukan oleh sesama idol, bukan fans, jadi lebih objektif.

“Lihat!! Aku terpilih sebagai BEST VISUAL!! Aku adalah idol paling tampan. 19 vote untukku dan hanya 6 untuk Choi Siwon. HANYA ENAM!!! Jadi CHOI SENGHYUN LEBIH TAMPAN DARIPADA CHOI SIWON!! Arraseo?”

Jihyun mendelik “Kenapa kau jadi sangat narsis seperti Seungri?”

Aku menghela napas “Bukan itu masalahnya, sayang… Tapi aku ingin kau menyadari bahwa jelas-jelas kau bisa memandangi wajah yang lebih tampan di rumah, tidak perlu repot pergi ke acara fanmeeting! Menghabiskan uang saja”

“aaaaaa…. Appaaaa…. Sip…sip….”

Rengekan baby Jun berubah jadi tangisan karena tidak menemukan Shaun the Sheep yang sedang ditontonnya. Aku dan Jihyun masih saling menatap, raut wajahnya menyiratkan banyak hal yang tidak bisa diterjemahkan. Campuran antara kesal, sebal, marah dan sepertinya ingin tertawa.

“Kau sedang cemburu?”

Dengan tawa yang ditahannya, Jihyun bertanya sambil meraih Juno yang tangisannya semakin kencang.

“Cemburu? Untuk apa aku cemburu dengan hal seperti itu… Aku ingin kau sadar bahwa hal itu tidak ada manfaatnya sama sekali..”

“TER-SE-RAH!! Pokoknya aku sudah mendapatkan tiket fanmeeting dan akan datang dengan atau tanpa persetujuan darimu.. Kajja baby Jun, lebih baik kita makan buah…”

Juno berhenti menangis dan berjalan mengikuti Jihyun ke dapur, meninggalkanku sendirian. Aku mengambil bantal sofa dan memukul-mukulnya. Jihyun sama sekali tidak pernah berubah, dari sejak berpacaran hingga menikah, sikapnya selalu saja seperti itu jika sudah bicara mengenai idolanya itu. Meski bukan ELF, dia itu benar-benar seorang siwonest sejati. Baginya Choi Siwon itu sangat sempurna, tampan, kaya, religius, berbakat dan banyak lagi pujian-pujian tidak penting yang selalu dikatakannya. Jika seperti itu, kenapa tidak meminta Jaejoong hyung untuk mengenalkannya pada Siwon agar mereka bisa berkencan? Aku pernah bertanya seperti itu pada Jihyun beberapa tahun lalu. Dia menjawab ‘Aku ingin Siwon mengenalku karena aku adalah fans-nya, bukan karena adik seorang Kim Jaejoong’.

Aku sama sekali tidak cemburu, hanya saja sikapnya itu benar-benar kekanakkan. Sebelum menikah, boleh saja dia begitu menggilai Choi Siwon, tapi sekarang dia adalah seorang istri dan ibu. Iya, kan?

(Juno : Appa juga sudah punya anak, tetap saja sangat menggilai bearbrick. Tidak ada bedanya dengan eomma )

Setelah berhasil menguasai perasaan, aku melangkah gontai menuju dapur. Jihyun sedang mencuci piring dan Juno sedang memakan buah pear yang sudah dipotong kecil-kecil, duduk di kursi dekat Jihyun. Mereka sedang bernyanyi lagu soundtrack Porroro. Juno terlihat sangat menggemaskan, bernyanyi dengan mengucapkan ujung liriknya saja, dengan mulut penuh pir.

(Juno : Aku kan sedang menirukan gaya appa kalau sedang nge-rap)

Chagiya… kau melupakan sesuatu”

Aku berusaha untuk bicara selembut mungkin agar Jihyun memperhatikanku. Dia melupakan sesuatu, punya kewajiban untuk membersihkan wajah, kaki, dan tanganku dari masker mahal itu. Bertanggung jawab atas perbuatan dia dan anak laki-lakinya. Jihyun mengabaikanku, lebih sibuk mencuci piring yang tidak sedikit jumlahnya, tertawa dan bercanda dengan baby Jun.

Eomma aaa…”

Jihyun membuka mulutnya yang langsung disuapi oleh Juno, sebuah pemandangan yang manis sekali tanpa sekalipun menyapaku. Itulah gaya Kim Jihyun kalau sedang menginginkan sesuatu dan kali ini aku tidak akan pernah mengalah. Akhirnya dengan gerakan sangat cepat, aku menghampiri mereka dan menyambar mangkuk berisi pear yang sedang dipegang Juno lalu segera lari menuju kamar mandi. Perlahan kudengar jeritan Juno yang berubah menjadi tangisan.

“CHOI TABIIIIIIII!!!!!!!! KAU GILAAAA!!!!!!”

(Juno : Tuh kan!!! Appa selalu mengangguku T__T)

Aku terbahak di kamar mandi sambil memakan pear itu dan mulai membuka baju, memutuskan untuk mandi, membersihkan masker yang tidak berguna itu. Aku terdiam dan sibuk memikirkan cara untuk mencegah Jihyun agar tidak datang ke acara fanmeeting itu di bawah guyuran shower. Hampir dua puluh menit aku mandi dan kemudian menyadari bahwa pintu kamar mandi tidak bisa dibuka.

“KIM JIHYUUUNNNN!!!”

Dia mengunci pintu kamar mandi dari luar. Good job!!

*****

Ne, oppa…. Aku sudah menerima tiketnya. Gomawo, Yunho oppa adalah yang terbaik… Jangan lupa untuk datang nanti. Juno? Ah, dia sangat cute seperti aku, tapi dia sudah tidur… Ne, aku akan menyampaikan salammu untuk Tabi… Ne, jalja….”

Jihyun meletakkan ponselnya di meja kecil lalu meneruskan pekerjaannya yang sedang mewarnai kuku. Wajahnya tampak berseri. Dengan terpaksa aku memberinya ijin, karena tadi siang dia tidak mau membukakan pintu kamar mandi, membuatku menggigil kedinginan. Satu ijin menjadi syarat pintu itu terbuka dengan mudah.

“Hattcciwhhh… Chagiya, kepalaku pusing…”

Dengan langkah yang malas aku menghampiri Jihyun yang sedang duduk di tempat tidur, berbaring di sebelahnya.

“Aaaaa sepertinya aku akan flu… ah, kepalaku sakit dan terasa demam”

Kutarik selimut dan menutupi tubuhku, berpura-pura menggigil kedinginan, bersikap seperti akan sakit. Jihyun menatapku dan meletakkan pewarna kukunya dan meraba dahiku.

“Tidak panas..”

“Tapi… tubuhku kedinginan… sepertinya aku akan sakit… hatciwwhh… itu karena kau membiarkanku di kamar mandi tanpa baju selama satu jam… aku masuk angin… hatchiwwwhhh…”

Aku mengeluarkan jurus akting terhebatku, memasang puppy eyes, dan juga bersin berulang-ulang. Sebenarnya tidak sepenuhnya bohong, karena memang kepalaku sedikit pusing. Jihyun membelai kepalaku dan aku memejamkan mata. Dalam hati aku tertawa, berdo’a semoga aktingku bisa sukses. Jihyun tidak pernah tega membiarkanku kesakitan.

“Kalau aku sakit tidak ada yang menjaga Juno selama kau pergi ke fanmeeting itu, jadi lebih baik dibatalkan saja”

Aku semakin mendekatkan tubuhku pada Jihyun dan tidur di pangkuannya. Jihyun mengangguk kecil, berpikir.

“Jae In sudah setuju untuk menjaga Juno. Lagipula aku tidak yakin kalau kau benar-benar sakit… kau sama sekali tidak panas.. Jangan manja, Choi Seunghyun….”

“Tapi… tubuhku terasa sangat lemaaaasss sekali… apa kau tega meninggalkan suami dan anakmu demi Choi Siwon.. kau terlaluan, istriku sayang..”

Dengan wajah memelas dan terlihat lemah, aku menatap Jihyun. Berharap dia akan mengangguk dan segera merengkuhku dalam pelukannya, merawatku dengan segenap cinta hingga besok tidak akan bisa datang ke acara fanmeeting tidak penting itu. Diluar dugaan, Jihyun justru beringsut dan meletakkan kepalaku di bantal, menyelimuti tubuhku.

“Selamat tidur, suamiku yang jago akting”

Jihyun tersenyum evil  sebelum berbalik memunggungiku. Ah, apa aktingku tadi tidak bagus? Apa seharusnya tadi aku menyayat nadi saja, pura-pura bunuh diri agar Jihyun membatalkan rencana itu. Ku dengar JIhyun tertawa cekikikan dan aku hanya bisa meremas bantal karena kesal.

Rencanaku gagal.

*****

“Hanya satu tiket, hyung… apa kau tidak bisa mengusahakannya untukku?”

“Tapi semuanya sudah sold out.. kau terlalu mendadak memesannya. Memangnya untuk siapa? Jangan bilang kau akan datang ke acara fanmeeting itu?”

“Untuk eonni-ku… dia bilang ingin datang untuk menemani Jihyun.. ayolah hyung, atau aku tidak akan membantu kencanmu lagi”

(Juno : PAMAN YUNHO!!! APPA BERBOHONG!!)

Yunho hyung terdiam sebentar dan kudengar suara sedikit berbisik, sepertinya berbincang dengan seseorang. Aku menunggunya dengan sabar, berbicara dengan suara pelan sekali di kamar mandi, takut ketahuan oleh Jihyun.

“Baiklah… nanti manajerku akan bicara dengan Manajernya Siwon… Tiketnya akan langsung diantarkan supirku ke rumahmu. Ah ya, sampaikan salamku untuk eomma, maaf karena sepertinya aku tidak bisa datang. Kau tahu wartawan dan stalker, kan? Mereka ada dimana-mana”

“Ne hyung… jeongmal gomawo… Jung Yunho benar-benar terbaik!”

Yunho hyung tertawa sebelum menutup sambungan telepon. Aku tersenyum puas. Akhirnya satu tiket fanmeeting bisa kudapatkan. Setelah rencanaku untuk mencegah kepergian Jihyun gagal, aku memutuskan untuk ikut datang, memastikan Jihyun tidak bersikap berlebihan. Aku melangkah dengan pasti keluar dari kamar mandi, mengambil segelas air dan bergegas ke kamar, menyusul Jihyun. Memperhatikannya dari depan pintu. Juno sedang sibuk bermain lego di lantai, lebih tepatnya mengacaukan lego yang sudah ku susun dengan susah payah.

 (Juno: Anniyo, aku hanya membuat bentuk yang lain)

“Tabi, aku mau pakai baju yang ini”

Jihyun berbalik ke arahku dengan memperlihatkan dress selutut bunga-bunga kecil berwarna ungu dan pink. Itu adalah baju yang dibelikan oleh Jaejoong hyung dari Paris, terlihat sederhana namun elegan dan tentu saja limited edition.

(Juno: Eomma cantik sekali kalau memakai baju itu, seperti ahjumma yang main iklan di tivi)

Aku menggeleng tegas, dia cemberut.

Wae?”

“Baju itu akan membuatmu terlihat seperti mahasiswi yang merayakan ulangtahun… aku tidak suka”

“Lalu aku pakai baju yang mana?”

Kuletakkan cangkir di lantai dekat baby Juno dan menghampiri Jihyun. Memilih satu dua baju yang cocok diantara ratusan baju Jihyun. Dia menunggu dan tidak banyak membantah.

“Baju ini rasanya sangat cocok, kita bisa memakainya bersama”

Bola mata Jihyun membulat dan bibirnya semakin mengerucut.

SHIREO!!!!!! Itu memalukan!! Lagipula kenapa harus KITA?”

(Juno: aduh eomma, baju itu lucu sekali loh…)

Aku tersenyum tipis. Di tanganku sekarang ada sepasang kaos couple berwarna pink bertuliskan Yours and Mine dengan gambar animasi robot dan putri yang sedang berpacaran. Jangan kira aku membelinya, itu adalah kado pernikahan dari Seungri, katanya dia memesan langsung dari Jepang. Aku tahu Seungri hanya iseng saja melakukannya, tapi Jihyun menyukai kaos itu. Memang lucu sih.

(Juno: Ne, lucu sekali… Paman Seungri bilang nanti dia akan membelikan kaos yang versi kecilnya untukku, tulisannya ‘Juno baby Alien’, itu apa artinya ya?)

Kudekati Jihyun dengan senyum penuh kemenangan.

“Kita akan datang bersama, sayang…. Tadi manajer hyung bilang kalau aku diundang oleh Choi Siwon untuk datang, tamu ekslusif”

(Juno: aku juga diundang, aku kan temannya paman Siwon)

Jihyun menatapku dengan menyelidik, kedua tangannya bersidekap di dada. Matanya memicing sinis.

“Kau bohong kan? Kenapa harus jadi tamu spesial? Dia kan tidak kenal padamu”

Aigooo… kami berdua itu sama-sama idol, sering bertemu. Jadi bagaimana mungkin tidak saling mengenal”

(Juno: Appa bohong lagi!!! Nanti hidungnya bertambah panjang seperti pinokio)

Agaknya Jihyun merasa janggal dengan ceritaku, apalagi dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba. Dia masih menatapku dengan tidak percaya, aku hanya mengangkat bahu. Terserah mau percaya atau tidak.

“Tapi aku tidak mau pergi bersamamu!!”

“Kita akan pergi bersama! Bertiga dengan Juno!! BER-TI-GA!! Tidak ada protes lagi”

“Bertiga? Shireo!! Lagipula seingatku kau ada acara makan malam dengan staf film. Sudahlah Tabi, kau jangan mengganggu rencanaku. Kenapa kau mendadak ingin ikut? Bukankah kau bilang itu hal yang sangat kekanakan?”

Jihyun masih berusaha untuk menggagalkan rencanaku, dia duduk di pinggir ranjang sambil menatapku seakan aku adalah alien yang sudah mengganggu kehidupannya. Melihat reaksinya yang seperti itu membuatku lebih bersemangat untuk menggodanya dan semakin yakin untuk ikut dalam acara fanmeeting.

“Juno ya.. nanti malam mau pakai baju yang mana? Kita harus kompak agar semua orang tahu kalau kita adalah dua orang namja yang paling tampan di dunia”

(Juno: Aku pakai baju yang mana saja deh, asalkan tidak terlihat aneh seperti appa)

Juno tidak menggubris kalimatku, dia terlalu sibuk dengan lego yang sudah terpisah menjadi ratusan keping di lantai. Jihyun memainkan ponselnya, sepertinya dia sedang mengirim pesan pada manajer hyung untuk mengkonfirmasi jadwalku nanti malam. Aku hanya menatapnya sambil bersandar pada lemari. Akhirnya Jihyun mengangguk.

“Tapi kau tidak boleh mengatakan pada Siwon kalau kau adalah suamiku, dan aku tidak mau memakai baju yang itu, dan selama acara berlangsung kita harus duduk terpisah, arra?”

Jihyun mengacungkan telunjuknya tepat di depan mukaku yang langsung kujawab dengan anggukan takjim. Biarkan apapun terjadi nanti malam, yang terpenting adalah aku berada disana saat Jihyun bertemu dengan Choi Siwon. Kuberikan senyumanku yang paling manis dan berusaha untuk mencium pipinya tapi Jihyun menghindar dan mencibir sebal.

“Minggir!! Aku mau mandi…”

Jihyun mendorong tubuhku yang menghalangi jalannya, berusaha untuk keluar dari kamar.

“ASTAGA JUNO!! APA YANG KAU LAKUKAN, NAK? KAU BISA MASUK ANGIN”

“Uno… num eomma…”

Jihyun segera mengangkat tubuh Juno yang sudah basah kuyup, rupanya dia sedang asyik bermain air yang entah dari mana datangnya memenuhi lantai. Dia berseru senang sambil mengangkat gelas kosong, mengatakan kalau ingin minum. Aku hanya tertawa melihatnya.

(Juno: Aku pikir isinya itu susu ternyata hanya air putih biasa, rasanya seperti minuman Charlie)

“Jangan tertawa!! Lagipula berapa kali ku bilang jangan meletakkan gelas berisi air sembarangan, kau mau Juno terpeleset dan jatuh? Sabar ya baby Jun, appa-mu memang sangat menyebalkan”

“ppaa… ndi…”

Baby Juno justru berseru senang dan mengatakan ingin mandi saat Jihyun melepaskan bajunya yang basah. Sedangkan aku sudah melesat secepat mungkin ke dapur, mengambil lap untuk mengeringkan lantai. Sebelum Jihyun memarahiku dan berbicara tidak berhenti seperti kereta yang melaju kencang, lebih baik aku segera menyelamatkan diri dan bersikap sebagai suami yang rajin.

(Juno: Rajin? Appa itu malas mandi loh >____<)

*****

“Juno, apa kabarmu sayang? Masih ingat pada paman, kan?”

“amaann…su…Uno…suuu”

Baby Juno berseru senang dalam pangkuangku, tangannya yang kecil menawarkan kotak susu cokelat yang sedang dipegangnya pada Siwon. Laki-laki itu menyempatkan diri menyapa kami di backstage, dia tersenyum ramah pada Juno. Mereka memang sudah saling kenal karena hampir terlibat dalam satu film yang sama.

“Aku merasa sangat terhormat saat mengetahui seorang T.O.P BigBang yang sangat sibuk bisa hadir di acara fanmeeting-ku malam ini. Terima kasih, TOP ssi…”

Siwon mengulurkan tangannya yang langsung kujabat dengan akrab.

“Malam ini aku tidak datang sebagai seorang TOP BigBang tapi sebagai Choi Seunghyun. SUAMI dari seorang ISTRI yang merupakan fans berat dari Choi Siwon”

Aku berusaha untuk berbicara senormal mungkin di samping Jihyun yang tersenyum manis pada Siwon. Menekankan kata suami dan istri, membuat Siwon tersenyum ramah. Senyuman yang kata fans-nya adalah senyuman yang bisa membuat pingsan. Menurutku biasa saja, tatapan mataku lebih eksotis dari senyumannya.

(Juno : Tatapan mata appa bukan hanya membuat pingsan tapi juga langsung terkena serangan jantung)

“Ya Tuhan, aku sampai lupa kalau Jihyun ssi juga ada disini. Selamat malam nyonya T.O.P BigBang, terima kasih sudah datang ke acaraku”

Hey, sejak kapan Jihyun menatap Siwon seperti itu? Menatap dengan tatapan kagum dan wajah yang tersipu malu, persis seperti adegan sebuah drama. Padahal, apa yang membuat Choi Siwon malam ini terlihat keren? Dia sama saja denganku, sama-sama sedang menggendong seorang bayi. Siwon sedang menggendong anak perempuannya.

(Juno: Aduh, namanya siapa sih? Dia cantik sekali ^^)

 “Ne, Siwon ssi. Aku memenuhi janjiku waktu itu untuk menyempatkan diri datang ke acaramu… omo, Raena sudah bertambah besar, bertambah cantik. Apa dia masih suka gatal-gatal?”

Jihyun mencubit pipi bayi cantik itu dengan gemas.

Anniyo imo… Sekarang aku sudah tidak pernah gatal-gatal lagi karena sering spa di tempat Jihyun imo

Siwon menirukan suara bayinya dengan sangat manis. Ah tidak, biasa saja.

Ne, kau harus sering datang, cantik.. ah ya, kau belum berkenalan dengan Juno oppa

Apa? Janji untuk bertemu? Mereka sudah punya janji untuk bertemu? Dan sejak kapan Jihyun mengenal anaknya Siwon? Dan apa itu? Juno oppa? Oppa? . Well, mungkin Siwon sering membawa anaknya ke tempat spa bayi milik Jihyun, tapi kenapa Jihyun tidak pernah bercerita. Ya Tuhan, istriku benar-benar memalukan.

(Juno: Raena ya, maukah bermain bersama Juno oppa? Kyaaaa panggilan oppa itu sangat keren).

Siwon dan Jihyun kemudian berbincang hangat, laki-laki itu memang luar biasa ramah, menyapa setiap orang dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Aku tidak suka cara Jihyun memandangnya, terlihat seperti ‘Siwon ssi sepertinya seorang ayah yang yang sangat baik, tidak risih menggendong bayinya. Membuatnya terlihat semakin sempurna’, berbeda sekali saat menatapku yang sedang menggendong Juno ‘Itu anakmu, Tabi, sudah seharusnya kau menggendong bayi’. Pandangan yang berbeda untuk dua idol namja bermarga Choi.

Setelah beberapa saat, Siwon berpamitan pada kami ketika seorang staf memanggilnya.

“Aku pergi dulu… Semoga anda bisa menikmati acaraku, TOP ssi”

(Juno: Raena ya, mau kemana? Disini saja bersama oppa).

“Tabi, apa aku terlihat cantik malam ini? Bagaimana make up-ku? Berantakan tidak?”

Jihyun mengeluarkan kaca kecil dari tas tangannya, memastikan dandanannya sekali lagi. Setelah berdebat cukup lama akhirnya aku setuju untuk mebiarkannya memakai dress itu, yang membuatnya terlihat sangat cantik dan imut malam ini, seorang istri TOP BigBang Jihyun memang harus selalu terlihat cantik. Sedangkan aku hanya memakai kaus santai dan blazer, malas untuk berpakaian keren. Lagipula tanpa pakaian yang bagus, aku tetap saja terlihat lebih tampan dan karismatik daripada Siwon.

(Juno : Tapi lebih tampan aku daripada appa)

Kajja, Tabi!! Acaranya sudah mau dimulai”

Jihyun menarik tangannku yang langsung kutahan.

“Aku menunggu disini saja bersama Juno, aku tidak mau acara ini berubah menjadi acara fanmeeting TOP BigBang, karena ternyata fans yang datang lebih tertarik padaku daripada Choi Siwon”

“Isshh… Kau itu percaya diri sekali, memalukan!”

Jihyun berpura-pura cemberut sebal tapi kemudian memeluk dan mencium pipiku juga Juno, sebelum bergegas menuju venue acara. Meninggalkanku yang masih berdiri di backstage dengan seorang bayi di pangkuanku, benar-benar istri teladan. Sesungguhnya aku memang tidak serius ingin datang ke acara ini, tidak serius ingin bertemu dengan Siwon, karena kami memang sering bertemu di acara musik. Aku hanya ingin melihat secara langsung reaksi Jihyun saat bertemu dengan idolanya. Sesaat aku tertegun, sebelum tersadar karena Juno merengek ingin turun dari pangkuanku.

“Uno…mmaa…eommmaa”

Dia ingin ikut dengan Jihyun.

(Juno: Appa, mari kita pergi mencari Raena yang cantik).

*****

Setengah jam setelah acara fanmeeting dimulai. Aku dan Juno menunggu Jihyun di sebuah lounge eksklusif di backstage, agaknya staf mengetahui kalau aku adalah tamu penting disana, atau mungkin itu memang perintah Choi Siwon, hingga diperbolehkan memasuki ruangan itu. Aku melihat semua detail acara dari sebuah LCD tivi yang terdapat disana, sesekali menghela napas saat kamera menyorot Jihyun.

“Mawoo…Uno…okaaattt”

(Juno: Terima kasih cokelatnya, imo yang cantik)

Juno sedang asyik bermain dengan dua bayi lain yang juga ada di ruangan ini. Selain kami berdua, disini juga ada seorang wanita cantik dan kedua bayi kembarnya, dia istri Choi Siwon yang datang terlambat sepuluh menit yang lalu. Dia terlihat cantik, elegan dan cukup sederhana untuk ukuran istri seorang superstar dan putri Jutawan Korea. Dia tidak berhenti tertawa karena mendengar perkataan Juno yang menggemaskan, selalu menjawab saat ditanya. Dia sama sekali tidak memperhatikan acara fanmeeting suaminya.

“Siwon pernah mengatakan kalau Juno sangat menggemaskan dan pintar. Putramu sungguh pintar, Seunghyun ssi. Semoga nanti kedua bayi kembarku juga akan cerewet sepertinya”

(Juno: terima kasih, imo.. jadi bolehkah aku mendekati Raena? Bukankah aku menantu idaman?)

Aku tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih, Juno yang merasa dipuji hanya tertawa dan melanjutkan aktivitasnya bermain bersama kedua bayi Choi Siwon.

“Apa menyenangkan jadi seorang idol?”

Eunmi ssi mengulas senyum dan mengikuti pandanganku yang sedang menatap layar LCD TV. Kulihat acara fanmeeting sedang mengadakan games dan Jihyun ikut berpartisipasi. Aku hanya menghela napas melihatnya.

“Apa kau tidak cemburu menyaksikan ratusan bahkan ribuan yeoja meneriakkan nama suamimu? Lagipula kenapa kau tidak ada di stage?”

Dia tersenyum.

“Hanya yeoja bodoh yang tidak cemburu melihat semua itu. Punya suami tampan yang kemudian jadi idola banyak orang. Kau tahu? Hampir ratusan surat datang untuk Siwon setiap hari dari fans-nya. Tentu saja aku cemburu, bahkan terkadang itu bisa jadi bahan pertengkaran. Tapi dibalik semuanya aku bangga, bahagia karena suamiku dicintai begitu banyak orang”

“Termasuk istriku…”

Eunmi ssi terbahak mendengar perkataanku yang agaknya terdengar kesal, kuhempaskan tubuh ke sofa.

“Aku tidak ingin berada di stage itu… apa istimewanya seorang Choi Siwon? Dia tidak berubah sejak dulu… selalu seperti itu, lagipula aku bertemu dengannya setiap hari di rumah.… Lebih baik menghadiri acara premiere film terbaru Lee Byung Hun”

Aku menoleh, menatap Eunmi ssi. Dia tersenyum tipis.

“Lagipula aku bukan fans-nya, aku adalah istrinya.. Seseorang yang dia nikahi. Aku adalah seseorang yang mengetahui kekurangan diantara jutaan pujian yang diberikan fans-nya. Maka aku harus ada disini untuk mendukungnya. Kau mungkin tidak menyangka kalau satu jam sebelum fanmeeting ini dimulai, aku dan Siwon bertengkar karena aku tidak berhenti memuji ketampanan seorang Tom cruise”

“aaaa… unooo… cilo…cilo….”

(Juno : Raewon merebut lego-ku.. pasti dia ingin menghalangiku untuk mendekati Raena)

Juno dan Raewon berebut mainan yang membuat mereka akhirnya berdua menangis. Kami berdiri dan meraih anak masing-masing, menenangkannya. Ini terlihat seperti kami berdua sedang berada di sebuah penitipan bayi. Eunmi ssi tersenyum simpul sambil menatap layar LCD yang mengclose-up wajah suaminya, mau tidak mau aku juga menatapnya.

“Fans, istri, suami, idola… Semua punya porsinya masing-masing. Tidak akan pernah tertukar”

“Tapi… istriku berlebihan sekali, selalu membicarakan Siwon..”

Eunmi ssi tertawa kecil “Tapi diluar, aku yakin dia selalu membicarakanmu pada orang lain… Bangga sekali karena punya suami setampan TOP BigBang. Ada kalanya, yang berharga itu justru bersifat eksklusif dan tidak ingin dibicarakan dengan orang lain. Itulah wanita, aku juga sering melakukannya”

Eunmi ssi kemudian keluar dari lounge sambil menggendong Raewon, sedangkan Raewon digendong oleh salah seorang staf, meninggalkanku dengan Juno yang tangisnya mulai reda. Aku masih menatap layar LCD itu, melihat Jihyun yang begitu ceria malam ini. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Meski apa yang dikatakan oleh istrinya Siwon itu benar tapi untukku tetap saja itu menyebalkan. Aku tidak suka Jihyun menyukai lelaki selain diriku. Tapi, yang terpenting dari semuanya adalah… Jihyun bersikap kekanak-kanakan.

Dia boleh saja menjadi fans Choi Siwon, menonton dramanya, tapi tidak harus membicarakannya di rumah, kan? Tidak harus membanding-bandingkan diriku dengannya? Aku dan Siwon adalah orang yang berbeda meski sama-sama idol.

Aku menghela napas dan membelai punggung Juno yang mulai mengantuk di pangkuanku. Hingga acara selesai dan kami kembali ke rumah, tidak ada sepatah katapun yang kuucapkan pada Jihyun. Walau dia bertanya, walau dia menyiapkan makan malam, walau dia memijit bahuku sebelum tidur. Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan apapun.

Aku sedang tidak ingin bicara dengannya.

*****

“Appaa…. Pppiii….. pppiiiii”

Aku menggeliat malas dan malah menarik selimut, menutup telingaku dari jeritan Juno yang tepat berada di depanku. Juno tidak menyerah, dia menarik selimutku, menaiki punggungku dan berteriak lagi.

“Apppaaaaa…… Uno…pppiiii….”

(Juno : Appa banguun!!! Aku kebelet pipis!!)

Sekecil itu dia sudah tahu bagaimana membangunkan ayahnya, tentu saja karena Jihyun yang mengajarkannya. Juno menarik-narik rambutku, berusaha agar aku bangun.

“Aaaa hentikan baby Jun!!! CHAGIYAAAA!!!!! Juno ingin pipisss…. KAU DIMANA?!!!”

Terlambat, sebelum Jihyun datang kurasakan hangat di punggungku, ternyata Juno sudah mengompol, membasahi piyamaku. Dia sudah mengerti, selalu bilang kalau ingin pipis atau pup, hanya saja belum bisa ke kamar mandi sendirian karena aku dan Jihyun belum mengajarkannya, takut terpeleset. Tapi pagi ini agaknya Juno sudah tidak bisa menahannya lagi hingga mengompol. Tapi kenapa harus di punggungku?. Dengan kesal, aku bangun dan menggendong Juno ke kamar mandi, mengganti celananya.

(Juno : Appa maaf yaa… tapi aku benar-benar sudah tidak tahan.. kata paman Jaejoong, daripada jadi penyakit, lebih baik ngompol saja)

Kulihat sekeliling, ke setiap ruangan dan menyadari kalau Jihyun tidak ada di rumah.

“Baby Jun, kemana eomma-mu? Dia kabur lagi?”

Ku dudukkan Juno di meja makan dan membuatkan susu untuknya, Juno diam saja, mengacak-ngacak buah.

(Juno : molla, tadi pagi eomma berpesan padaku agar mengganggu appa seharian. Soalnya eomma sedang sibuk, entah pergi ke mana)

Kuserahkan dot penuh susu yang langsung disambar oleh Juno, agaknya bayi itu sangat kelaparan sama seperti perutku yang berbunyi. Aku menghela napas saat menemukan secarik kertas yang menempel di pintu kulkas tepat saat akan mengambil makanan.

Dear, TOP BigBang yang lebih tampan dari Choi Siwon…

Karena kau tidak mau bangun meski aku sudah menyetel lagu strong baby di telingamu, maka aku tidak sempat berpamitan. Dan karena kau menolak bicara denganku sejak semalam, maka aku juga tidak mau bicara denganmu!!! >,<

Aku pergi ke rumah eomma, seharian ini akan sangat sibuk sekali. Jadi, jangan pergi kemanapun!! Jaga anakmu jangan sampai dia menangis.

Aku sudah menyiapkan sarapan dan makan siang untuk Juno di kulkas, kau tinggal menghangatkannya saja.

Apa??? Makanan untukmu? ??? Kau lapar? Pesan saja dari restoran!! Itulah hukuman karena kau tidak mua bicara denganku!!

Jangan jemput aku!! >,<

BYE!!

Kim Jihyun yang cantik

Ku tatap Juno yang sedang menyedot susunya dengan antusias, dia sudah turun dari meja makan berdiri di depan kulkas, mencopot berbagai tempelan yang ada disana. Aku menatap anak itu dengan iba, dia belum mandi, belum sarapan, ngompol, dan harus ditinggalkan eomma-nya yang menyebalkan. Perlahan aku merasa bersalah padanya. Mungkin aku sudah salah memilihkan ibu untuknya, kasihan sekali my baby boy.

(Juno : ahahaha… appa lebay ._____.)

“AAAAAAA KIM JIHYUN!!!!!!”

“Ihyuuuunnn…”

Aku menjerit melampiaskan kekesalan dan Juno malah menertawakanku. Ku raih tubuh kecilnya dan membawanya ke ruang tengah. Baiklah jika Jihyun tidak mau dijemput, kita tunggu saja berapa lama dia akan bertahan tanpa ada aku. Lagipula aku tidak akan bergantung padanya, masakannya juga tidak enak. Kuraih ponsel dan menelepon ke rumah orangtuaku, merengek.

Eommaaaa…. Aku lapaarrr… Jihyun? Siapa Jihyun? Aku tidak punya istri seperti dia… ayolah eomma… cepatlah datang… aku lapaarrr”

Jika Jihyun tidak ada, aku masih punya eomma yang akan selalu memanjakanku.

(Juno : Asyiikkk.. appa sedang diceramahi Halmeoni)

Mood-ku hari ini benar-benar rusak!! Bukan hanya karena Jihyun, tapi laki-laki itu…. Choi Siwon.

*****

“Ahahaha…. Agiiii… amang obe… agiiii”

Juno merengek pada Youngbae, memintanya untuk menari lagi. Mereka berdua sedang asyik dance harlem shake, dan Youngbae melakukan gerakan yang membuatku ingin muntah saat melihatnya. Masih lebih baik dance baby Jun dan Gaho walau hanya menggerakkan pantat.

(Juno: Paman Youngbae itu dancer yang sangat berbakat dan hebat… tidak seperti appa)

Jika biasanya aku tidak suka kalau member BigBang mengacaukan rumahku, maka kali ini aku justru meminta mereka untuk datang, membiarkan mereka menghabiskan makanan. Youngbae dan baby Juno sedang sibuk Harlem Shake, Jiyong asyik dengan ponselnya, merekam aksi Youngbae. Daesung sedang di Jepang dan Dongwook hyung sudah masuk kamp militer.

(Juno : Paman Dongwook T____T Bogoshipoooo)

“Ah… rasanya segaaaarrr sekali”

Seungri? Nah dia baru saja keluar dari kamar mandi. Entah kenapa, Seungri selalu menyempatkan diri untuk mandi di rumahku, katanya air rumahku sangat menyegarkan. Tapi aku menduga dia sengaja melakukannya untuk menjadi tampan sepertiku. Semacam ritual.

(Juno: Appa kok sekarang lebih narsis daripada paman Seungri, yah?)

“Ayo berkumpul!! Hyung, berhenti melakukan tarian menjijikkan… dan baby Juno, come to your handsome uncle…”

Seungri merentangkan tangan berharap Juno akan mendekatinya, tapi anakku itu malah semakin asyik menari Harlem shake.

“Pandaa…. Paman panda yang jelek… ayo katakan itu, baby Jun”

Hyung. Jangan mengajarinya berbohong …. Katakan paman Tampan… Seungri yang tampan…”

“Celi… Amang celi…”

NO CELI!!! SEUNG—-RI!!!”

“celiii…”

(Juno : Itu artinya SEUNGRI!!!! AIGOOO!!!)

Jiyong terbahak mendengar Juno mengucapkan kata Seungri, yang membuat si maknae melengos kecewa. Seungri mengambil bungkusan besar yang tadi dibawanya, lalu duduk di karpet di samping Jiyong. Aku hanya memandangnya mereka semua dengan malas dari atas sofa, berbaring tanpa gairah. Seungri mengeluarkan isi dari bungkusan itu, ratusan surat. Setiap hari kami mendapatkan banyak sekali surat yang dikirim ke kantor YG, dan kami selalu berusaha membacanya di saat luang seperti sekarang. Jiyong, Youngbae dan Juno kemudian bergabung dengan Seungri, memisahkan surat yang dikhususkan untuk member. Baby Juno membantunya, lebih tepatnya mencorat-coret beberapa surat.

(Juno : Kenapa tidak ada surat untukku?)

Mereka bertiga sesekali tertawa dan tersenyum saat membaca surat itu. Sedangkan aku membiarkan surat untukku menumpuk, nanti saja membacanya.

“AHAHAHA…. YA DENGARKAN seMUANYA!!!”

Seungri tertawa terbahak ketika membaca sebuah surat beramplop biru, membuat kami semua memperhatikannya.

“DEAR CHOI SEUNGHYUN SSI!!! BERHENTILAH TAMPIL DI TELEVISI!! BERHENTILAH BERSIKAP SOK TAMPAN DAN KHARISMATIK!! APA KAU TIDAK TAHU KALAU ISTRIKU SELALU MEMBICARAKANMU TANPA HENTI??? MARI KITA BERTEMU DAN BUKTIKAN SIAPA YANG PALING TAMPAN!!!!”

Jiyong merebut surat itu dari tangan Seungri, untuk membuktikan kalau Seungri tidak berbohong, dan Jiyong tersenyum polos padaku. Sedangkan Seungri dan Youngbae sepertinya puas sekali, menertawakanku sampai ingin menangis.

Aigoo… di suatu sudut Korea ada seorang suami yang marah pada seorang idol tampan dan ternyata idol itu juga sedang marah karena istrinya justru…. Menyukai idol lain… aigoo.. perutku… perutku….”

Seungri tertawa sambil memegangi perutnya dan memeluk baby Juno. Jiyong dan Youngbae tersenyum, menahan tawanya demi menghargai perasaanku. Kurebut surat itu dari Jiyong dan membacanya. Seungri memang tidak berbohong.

“Baby Jun… kasihan sekali appa-mu ahaha…”

(Juno : Iya kasian… tapi berhentilah memelukku, paman celi!!!!)

Hyung, kau tidak melakukannya kan?”

Aku mendelik mendengar pertanyaan Jiyong.

“Maksudku kau tidak mengirim surat seperti ini pada Siwon… atau mengatakan padanya untuk membandingkan ketampanan kalian?”

“Memalukan!”

Aku menjawab ketus dan mereka bertiga masih saja tertawa puas. Yap, ini mungkin kejadian yang begitu ironis, karena ternyata ada juga suami yang marah karena istrinya adalah fans beratku. Jiyong, Youngbae dan Seungri meneruskan aktivitasnya, membaca surat-surat itu satu persatu. Sedangkan aku hanya diam dan mulai berpikir dengan cara yang kharismatik.

(Juno : ??????)

Ah, Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Tidak jauh berbeda dengan Choi Siwon, aku juga punya banyak sekali fans yeoja, berbagai umur, berbagai generasi dari anak sekolah menengah hingga ibu rumah tangga. Mereka selalu mengirim surat, mengirim makanan, memenuhi venue tempat aku konser atau fanmeeting. Selama ini aku menikmatinya, tanpa menyadari dibalik itu semua mungkin banyak suami, namjachingu yang cemburu. Kini, aku merasakannya sendiri dan perlahan mulai merasa malu pada semua fans-ku.

“Kalian pulanglah… aku dan Juno akan ke rumah eomma

“Menjemput noona?” Seungri bertanya dan aku mengangguk.

“Baiklah, lagipula kami juga harus pergi ke suatu tempat..” Jiyong berdiri diikuti Seungri dan Youngbae, membawa setumpuk surat itu ke mobil mereka.

Kajja… baby Jun… kita ke rumah halmeoni

“oonnniiii”

Juno bersorak gembira dan berlari ke kamar, membuka lemarinya. Dia sudah mengerti bahwa setiap kali akan mengunjungi eomma maka harus memakai baju yang bagus agar terlihat tampan, itu hal yang diajarkan Jihyun. Kubiarkan saja Juno mengacak-ngacak lemari dan dia menarik sebuah kemeja angry bird berwarna merah, pilihan yang bagus.

*****

“Astagaa… kau tampan sekali boy…”

Dengan kemeja yang baru dikancingkan setengahnya, Jaejoong hyung membukakan pintu untuk kami dan dia segera meraih Juno dalam gendongannya. Kulihat eomma mertuaku sedang menata banyak makanan di dapur bersama Jae In, aku menghampirinya dan memeluknya.

“Selamat ulang tahun, eomma…. Maafkan aku datang terlambat”

Gwaenchana…. Dan terima kasih untuk tasnya.. aku sangat menyukainya… itu sangat cantik”

Aku menatap eomma dengan heran tapi mengangguk saat mengingatnya. Hadiah yang kubeli di Milan untuk hadiah ulangtahun eomma, yang sebenarnya pilihan Jihyun. Aku duduk saja di meja makan, memakan kue kering yang rasanya enak sekali. Hari ini  adalah perayaan ulang tahun eomma sekaligus pesta untuk merayakan album solo Jaejoong hyung yang sukses. Eomma tertawa bahagia mendengar perkataan Juno yang sangat cerewet, memamerkan kemeja angry bird-nya.

“Beeddd…. Bed….”

(Juno : Halmeoni… hari ini aku memakai kaos bergambar Bigbang… eh angry bird maksudnya)

“Jadi antara kau dan Siwon, siapa yang lebih tampan? Tentu saja tidak ada… karena akulah yang menang”

Jaejoong hyung tertawa kecil diikuti Jae In dan ahjumma pelayan. Aku yakin semua orang pasti sudah tahu ceritanya. Itulah Jihyun, senang sekali menceritakan hal-hal yang konyol. Ah iya, yeoja itu ada di mana?

“Dia di atas…”

Jae In berbaik hati memberitahu, aku langsung naik ke lantai dua, menuju kamar Jihyun yang ditinggali sebelum menikah denganku. Kamar ini masih sama, masih penuh dengan foto Jihyun, dan tentu saja aku. Sejenak aku termenung di pintu dan menyadari bahwa meskipun Jihyun sangat menyukai Choi Siwon tapi dia tidak pernah menyimpan fotonya, menempelkan poster atau apapun yang berhubungan dengan itu. Sejak dulu sampai kami menikah, Jihyun menghargaiku.

Dia sedang berbaring menelungkup di atas ranjang, memainkan tab-nya, mungkin sedang shopping online. Aku loncat ke atas ranjang mengagetkannya, mencium pipi dan memeluknya. Jihyun melirikku dengan sebal dan kembali asyik dengan tab-nya, mengabaikanku.

“Hai gadis cantik… siapa namamu?”

“Kau siapa? Aku tidak mengenalmu..”

Jihyun kembali cemberut, membuatku gemas dan ingin sekali menggodanya. Ku balikkan tubuhnya menghadapku dan mencengkram tangannya, berbisik dengan seksi.

“Aku suamimu…”

“Suami? Aku tidak punya suami seorang ahjussi sepertimu dan lepaskan tangankuuuu… kalau tidak… aaaaaa JAEJOONG OPPAAAA…. TOLONG AAKKUUUUUU……”

Sebelum Jihyun berteriak lagi dan memanggil semua orang, aku sudah membungkamnya dengan ciumanku. Dia sedikit terbelalak kaget dan mendorongku, tapi karena cengkramanku terlalu kuat akhirnya Jihyun diam saja, menikmatinya dengan senang hati, malah membalasnya hingga aku yang nyaris kehabisan napas. Siapa yang bisa menolak pesonaku?.

Kami terdiam menghela napas dan perlahan Jihyun tersenyum.

“Sekarang… kau mengenaliku?”

Jihyun mengangguk senang lalu mencium pipiku “Kau… Choi Seunghyun suamiku yang paling seksi”

Kami tersenyum lalu kemudian tertawa bersama, saling berpelukan. Menertawakan sikapnya yang kekanak-kanakkan, menertawakan sikapku yang juga konyol sampai tidak mau bicara padanya berjam-jam.  Seharusnya aku bisa lebih mengerti dirinya.

“Kau jauh lebih tampan dari Siwon, atau laki-laki manapun di dunia ini karena kau adalah suamiku… bagiku kau adalah yang paling tampan… selama kau menjadi ayah bagi anakku… maka kenyataan itu tidak akan pernah berubah…”

Jihyun membelaiku.

“Aku menyadari bahwa aku… cemburu… Aku takut kalau kau lebih menyukainya daripada diriku… Melihat semua kelebihannya. Aku cemburu dan tanpa sadar membanding-bandingkan diriku dengannya padahal kau tidak pernah melakukannya.. mianhae

“Aku tahu kalau kau cemburu tapi tidak mau mengakuinya, gengsi… malah menyalahkanku yang bersikap tidak dewasa… aigoo, Aku sudah bersamamu dari sejak jaman gendut hingga menjadi best visual idol…. Tidak akan mungkin berpaling dengan mudah, lagipula Siwon kan sudah punya istri lagipula… dia itu hanya idolaku sedangkan kau suamiku.. tapi maafkan kalau aku juga sering berlebihan…”

Aku menggeleng dan menariknya dalam pelukanku. Sepanjang perjalanan, setelah membaca surat dari suami fans-ku itu aku menyadari bahwa ada begitu banyak fans yang bersikap seperti Jihyun, ratusan bahkan mungkin ribuan. Sungguh tidak bijak menyebutnya kekanakkan, itu sama saja dengan menyebut fans-ku seperti itu. Padahal aku juga tidak ada bedanya dengan Jihyun, rela menghabiskan uang, waktu dan tenaga demi bearbrick, membicarakannya tanpa henti. Itu sama saja, hanya bedanya Jihyun mengidolakan manusia sedangkan aku menyukai robot.

Diantara aku dan Choi Siwon tidak ada yang lebih baik, kami adalah dua orang yang berbeda, yang mempunyai kelebihan serta kekurangan masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul karena tampan itu bersifat relatif. Juga bagi fans-nya, idolanya adalah yang terbaik dibandingkan yang lain. Sebuah prinsip sederhana yang tidak kupahami padahal aku seorang idol. Benar kata Eunmi ssi, bahwa fans, idola, istri dan suami punya artinya masing-masing dan tidak akan tertukar.

Kajja… pasti sudah banyak orang yang datang”

Aku berdiri dan merapihkan baju.

“Tabiiiii… aku tidak mau jalan”

Jihyun merengek dengan gaya khasnya dan aku sudah mengerti apa yang diinginkannya. Jihyun sudah memeluk leherku dari belakang, menciumi tengkukku, rasanya geli. Kami lalu turun dari lantai dua, bergabung dengan yang lain.

“Ckck.. eomma kenapa bisa punya anak dan menantu menyebalkan seperti itu?”

(Juno : kebiasaan! Eomma dan appa pasti melupakanku)

Jaejoong hyung menggeleng heran saat melihat kami, yang hanya direspon leletan lidah oleh Jihyun. Bukan hanya dia, tapi juga orang-orang yang sudah berkumpul untuk pesta sederhana ini, ada Junsu dan Yoochun hyung juga Yoon Eunhye (ssttt kabarnya mereka berkencan setelah main drama) dan juga… ya ampun kenapa Seungri, Jiyong dan Youngbae senang sekali mengikutiku? Kenapa mereka ada disini? Hey, aku tidak pernah mengundang mereka.

“Jaejoong hyung yang mengundang kami… iya, kan?”

Seungri menatap Jaejoong hyung, mengkonfirmasi.

“Sudahlah, yang punya pesta ini adalah aku… bukan hyung-mu yang sok tampan itu. Enjoy it!!”

Sejak kapan Kakak iparku dan Seungri jadi kompak. Para idol kaya, tampan dan terkenal itu sudah berkumpul di meja makan, membuka beberapa botol wine. Jihyun turun dari pangkuanku tanpa melepaskan tanganku sedikit pun. Sudah tahu kan alasannya?

(Juno : Eomma cemburu wkwkwkwk)

“Astaga!! Siapa yang sudah memberikan es krim pada anakku?? Pasti kau Kim Jaejoong!!”

Anniyo… Yoochun yang melakukannya”

Molla… mungkin Juno mengambilnya sendiri dari kulkas”

Di tengah kesibukan orang dewasa, Juno dengan tenangnya duduk di sofa di seberang eomma dan Yoon Eunhye yang sedang mengobrol. Dia sedang menghabiskan satu cup eskrim dengan khusyuk, bibirnya belepotan, bahkan sampai hidung dan pipinya. Jihyun menghampirinya, membersihkannya.

(Juno : Yang memberikan es krim ini padaku adalah….. paman Junsu)

Aku menghampiri kerumunan idol itu, ikut menghabiskan makanan. Junsu hyung mengeluarkan ponselnya, membaca pesan, lalu menatapku.

“Seunghyun ah… Siwon mengundangmu untuk bergabung dengan klub idol pecinta wine.. kau kenal dia?”

Ketiga member BigBang dan Jaejoong hyung tertawa kecil.

Ne hyung, aku mengenalnya… dia adalah teman baikku dan juga… Jihyun”

(Juno : aku… paman Siwon juga teman baikku)

Sekarang mereka berempat sudah tertawa terbahak dengan tidak sopan, menertawakan wajahku yang terlipat dengan kesal sedangkan Junsu dan Yoochun hyung hanya memandang tidak mengerti. Samar kudengar mereka berbisik jahil ‘Nanti klubnya akan berganti nama menjadi klub idol tampan’, ‘Yaa Choi Siwon!! Aku jauh lebih tampan daripada dirimu’. Dan banyak sekali kalimat yang membuatku hanya diam sambil mengunyah kue.

(Juno : *pukpuk* duh appa jangan menangis yaaa)

Tunggu!! Kenapa Siwon bisa tahu kalau aku sangat suka wine? Jihyun yang menceritakannya? Mereka sudah bersahabat dekat?.

Aisshhh sudahlah!! Menyebalkan!!

*****

Seoul saat ini sedang memasuki akhir musim dingin, membuat udara bertambah dingin seperti malam ini. Baby Juno baru saja tidur setelah mengacaukan tulisanku, harus di edit berulang kali. Akhir-akhir ini dia sedang rewel, selalu menangis, menurut dokter karena gigi gerahamnya akan tumbuh. Ah iya, dua bulan lagi dia akan tepat berumur dua tahun, Jihyun sedang merencanakan sebuah pesta yang fantastis. Kalian tahu siapa special guest-nya? Tentu saja bukan BigBang.

Walau sangat terlambat, tapi aku ingin mengucapkan selamat tahun 2013 untuk semuanya. Apa harapan kalian tahun ini? kalau Jihyun ingin punya baby girl, dan aku akan berusaha untuk mewujudkannya ^^.

Hoaammhhh… Aku sudah sangat mengantuk dan Jihyun sudah sejak tadi mengomel tiada henti ‘Jangan begadang!! Nanti wajahmu semakin cepat tua seperti ahjussi!!!’ , padahal apa hubungannya begadang dengan cepat tua?.

“Tabiiiiii…”

Nah dia sudah memanggilku lagi, tidak sabar ingin memeluk tubuhku ^^.

Baiklah, selamat malam semuanya. TOP sang idol paling tampan pamit dan juga Juno. Jangan berhenti untuk menjadi fans-ku yaa… jaljaaaaa….

.

.

.

THE END –

Choi Seunghyun or Choi Siwon?

Choi Seunghyun di kanan, Choi Siwon di kiri saya di tengah… ah indahnya kalau hidup seperti itu ahaha…

See you ^^

About these ads

57 thoughts on “Tabi Appa’s diary – Choi Seunghyun or Choi Siwon?

  1. Seperti biasa yah selalu dpt pencerahan setiap abs baca ff kamu
    Banyak kata” bijak tersebar di sini
    Aku setiap hr baca ff kamu bisa jd bijak kali yah wkwkwkwk
    Oh yah eon aku izin screen capture kata” bijaknya yah bwt di simpen klo ga ga bwt aku sebarin di dunia maya hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s